Tuesday, May 10, 2016

#22: Sakit

Halo, pipi tembem! Apa kabarmu waktu baca tulisan ini? Semoga sehat ya.

Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu Bapak sakit. Pertama, sakit gigi. Geraham Bapak di bagian kiri bawah tumbuh. Rasanya sakit banget. Gusi bengkak, pipi bagian dalem bengkak, kalau makan sering kegigit. Kedua, sariawan, langit-langit mulut Bapak yang sebelah kiri luka. Combo itu, sakit gigi plus sariawan. Jadi Bapak kalau ngunyah hanya bisa pakai barisan gigi sebelah kiri. Ketiga, sebagai pelengkap penderitaan, batuk pilek demam. Lengkap sudah.

Ketiga penyakit itu hinggap selama lebih dari seminggu, jadi selama itu pula Bapak agak jaga jarak sama kamu, takut kamu ketularan. Tapi waktu Bapak mulai sembuh, giliran kamu yang batuk pilek. Ditambah muncul bentol-bentol merah di mukamu. Duh!

Awalnya, kami kira itu bekas gigitan nyamuk, tapi kok ga ilang-ilang. Sempet panik, kami pikir kamu kena demam berdarah, karena akhir-akhir ini emang sedang banyak kasus DB di Tabalong. Untungnya badanmu ga panas, jadi kami bisa tepis kepanikan itu.

Untuk batuk pilekmu, beberapa kali kami kasih paparan uap dari air panas di baskom ke mukamu. Gunanya buat ngencerin ingusmu biar gampang keluar. Ingusmu yang awal-awal keliatannya ngeganggu nafasmu itu lama-lama ilang juga. Batukmu juga udah ga sesering tempo hari, udah hampir berenti malah.

Sementara untuk mukamu, setelah browsing dan tanya sana-sini, kami disuruh ngolesin salep ke bentol-bentol merah itu. Syukurlah, sekarang udah berenti muncul. Belum ilang banget sih, masih ada sisa dikit, tapi kayaknya bentar lagi ilang.

Setelah kamu mulai baikan, tau ga kejadian selanjutnya? Yak, betul, sekarang Ibumu yang sakit! Penyakitnya masih sama kayak kita: batuk pilek. Sekarang ini masih belum sembuh dia. Tadinya mau minum obat flu, tapi katanya ga direkomendasiin buat ibu menyusui. Jadi obatnya cuma minum suplemen vitamin C, sayur, sama air putih sebanyak mungkin. Ibuk kalo tidur juga pake masker, biar ga nularin kamu lagi.

Semoga kita semua cepat sembuh, Dek.

Tuesday, April 12, 2016

#20: Seri Dongeng: Kirana dan Bunga Berwarna Merah Jambu

Halo! Apa kabar, Nak? Dua malam yang lalu, sebelum tidur, Bapak nyeritain kamu sebuah dongeng. Dongeng ini dadakan Bapak bikin, terinspirasi dari gambar di baju yang kamu pakai. Dongengnya kayak di bawah ini.

***

Ada seorang anak gadis bernama Kirana. Ia adalah anak yang manis dan menyayangi kedua orangtuanya, meski sesekali suka berbuat iseng, seperti berpura-pura menangis padahal tidak sedang sedih, sehingga membuat bingung ibunya.

Suatu hari, ia ingin memberi hadiah kepada orangtuanya. Padahal, tak ada satupun dari kedua orangtuanya yang berulangtahun. Ini juga bukan hari ibu, atau hari ayah. Ini hari yang biasa saja. Gagasan memberi hadiah itu tiba-tiba saja muncul di kepalanya, tanpa alasan yang jelas.

Kirana berpikir, hadiah apa kira-kira yang mampu ia berikan. Sesuatu yang tidak membutuhkan biaya, yang jelas, karena anak seusianya tidak memiliki uang. "Aha!" pikirnya dalam hati, "aku akan memberi mereka segerobak bunga". Lebih spesifik lagi, bunga berwarna merah jambu. Kenapa bunga dan kenapa berwarna merah jambu, lagi-lagi, tidak ada alasan khusus. Benda itu terlintas begitu saja dalam benaknya.

Sayangnya, di sekitar rumahnya tidak ada bunga berwarna merah jambu. Kalau bunga berwarna lain ada. Banyak malah. Biru, kuning, hijau, putih, abu-abu, ungu, oranye, merah marun. Tapi tidak ada merah jambu. Sejenak ia berpikir untuk mengganti hadiahnya dengan bunga berwarna biru yang tumbuh tepat di samping pagar rumahnya. Tapi pikiran itu segera ia tepis. Aku ingin mencari bunga berwarna merah jambu, katanya teguh. Selain manis, ia juga berhati teguh dan berjiwa petualang.

Maka, ia mengambil gerobak mungilnya, lalu mendorongnya ke luar rumah, mengikuti instingnya dalam mencari bunga berwarna merah jambu. Ia berjalan terus sampai ke ujung desa, menyeberangi sungai kecil, sampai akhirnya masuk ke hutan. Kirana yakin, ia akan mendapatkan bunga berwarna merah jambu itu di hutan ini. Radar alami di dalam hatinya yang mengatakan itu.

Dengan mantap, ia menyeret kakinya menembus rimbun pepohonan. Orang bilang, di dalam hutan banyak hewan yang suka menggigit. Namun Kirana tidak takut. Ibunya mengajarkannya bahwa semua hewan adalah temannya. Mereka tidak akan menggigit jika kita tidak menggigit duluan.

Semakin masuk ke dalam hutan, semakin gelap dan dingin auranya. Ia lupa sudah berapa lama berjalan mendorong gerobaknya, mungkin sekitar sepuluh kilometer. Akhirnya, ia sampai di sebuah tanah lapang di balik pohon cemara. Di sana, ia menemukan padang bunga beraneka bentuk, semuanya berwarna merah jambu. "Horee!" teriaknya.

Kirana lantas memetik beberapa tangkai bebungaan tersebut, sembari mengucapkan permisi sebelumnya. "Permisi ya, ladang bunga. Aku minta sedikiiit saja dari kawananmu, beberapa tangkai saja," katanya.

Angin meniup bunga-bunga, membuat mereka bergerak-gerak seperti mengangguk. Mungkin pertanda setuju.

Kirana berjalan pulang, mendorong gerobaknya yang sekarang sudah penuh terisi bunga berwarna merah jambu. Namun, hari semakin gelap. Ia tidak memperhitungkan waktu, ternyata ia terlalu lama berada di dalam hutan. Langit yang gelap ditambah rapatnya pepohonan membuatnya bingung dengan jalan yang harus ia lalui.

Kirana akhirnya sadar kalau ia tersesat. Air mata mulai menetes di pipinya yang tembem. Bukan, ia bukan takut kepada hewan buas atau hantu. Ia sedih, karena orangtuanya pasti khawatir mencarinya. Ia duduk di sejulur akar. Ia mencoba tenang dan berpikir rasional. Meski, tentu saja, sulit untuk berpikir rasional dalam keadaan yang tidak menyenangkan.

Ia menimbang-nimbang untuk bermalam saja di situ, dan mencari jalan pulang esok pagi ketika hari sudah mulai terang. Selain hari yang gelap, kakinya juga mulai bengkak, terasa sakit dan panas jika dipakai berjalan. Namun, bayangan akan kedua orangtuanya yang khawatir semakin mengganggunya. Mau tidak mau aku harus pulang malam ini, katanya.

Di tengah gelap dan keletihannya, ia mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk berpikir, apa kiranya yang bisa ia lakukan untuk keluar dari keadaan itu. Ia lantas teringat sebuah pesan dari ayahnya:

"Jika kau berada dalam keadaan yang sangat sulit dan merasa tidak bisa berbuat apa-apa, maka serahkanlah semuanya pada semesta."

Teringat pesan itu, Kirana lalu memejamkan mata. Mencoba rileks dan percaya sepenuh hati bahwa semesta akan menolongnya. Ia menyeka keringat di wajahnya dan mencoba mengatur nafasnya. Semakin merasa rileks, semakin ia merasa tenaganya mulai datang lagi. Dengan matanya yang masih terpejam, pelan-pelan ia merasa ada cahaya di depan wajahnya.

Ia membuka mata, dan melihat segerombolan kunang-kunang beterbangan di sekitarnya. Dengan suatu bahasa yang sulit dijabarkan, mereka mengatakan akan membantunya menerangi jalan pulang. Kemudian, ia mendengar siulan burung elang yang melayang-layang di atasnya. Si burung elang bersedia membantunya sebagai navigator dari udara.

Kemudian, datang empat ekor tupai, tiga ekor rubah, serta dua ekor kijang. Mereka berkomitmen untuk membantunya mendorong gerobak yang mulai terasa berat itu.

Dari sebuah semak-semak, melompat seekor macan yang sangat besar. Wajahnya yang sangar, taringnya yang besar, serta cakarnya yang tampak setajam pisau, sempat membuat Kirana dan teman-teman barunya sedikit takut.

Namun, si macan cepat-cepat mengeluarkan wajah yang ramah, memasukkan taring dan cakarnya, dan merendahkan tubuhnya di depan Kirana, seolah berkata, "Kirana, naik ke punggungku".

Maka begitulah, rombongan yang ganjil itu berjalan menyusuri rimba. Dari atas, si burung elang mengarahkan rombongan menuju arah yang tepat. Gerombolan kunang-kunang berada paling depan, menjadi semacam senter yang lumayan terang. Di belakangnya berjalan macan dengan Kirana duduk menunggangi punggungnya.

Di paling belakang, kijang-kijang dan rubah-rubah mendorong gerobak berisi bunga berwarna merah jambu. Sementara para tupai, yang tadinya berkata akan ikut membantu mendorong, akhirnya malah asyik tidur-tiduran di atas tumpukan bunga.

Akhirnya mereka sampai di ujung hutan. Di seberang sana, di ujung desa, tampak kedua orangtua Kirana dan penduduk desa berjalan ke sana kemari sambil membawa senter. Jelas mereka sedang mencari Kirana yang hilang sejak tadi pagi.

Sekali lagi, dengan suatu bahasa yang sulit dijabarkan, teman-teman Kirana berkata mereka hanya bisa mengantarnya sampai di sini. Jika para penduduk desa melehat kami, agak repot nanti, kata mereka. Kirana melompat dari punggung macan, dan memeluk mereka satu-persatu. Kecuali kunang-kunang yang tubuhnya terlalu kecil, dan si burung elang yang masih berputar-putar di langit.

Kirana mendorong gerobaknya menuju kerumunan itu. Kedua orangtuanya segera berlari memeluknya.

"Dari mana saja kamu, Nak?"

"Seharian ini aku mencari bunga berwarna merah jambu, hadiah untuk kalian. Ini, aku bawakan satu gerobak penuh."

"Bagus sekali, Nak. Terima kasih. Tapi, lain kali, tak perlu repot mencarikan kami hadiah. Senyummu saja adalah hadiah paling indah yang bisa kami terima, Nak."

Mereka bertiga dan penduduk desa kembali ke rumah masing-masing. Kirana digendong ayahnya, sedangkan ibunya berjalan di sampingnya sambil mendorong gerobak berisi bunga berwarna merah jambu. Kirana tersenyum dan melambaikan tangan ke arah hutan. Di balik gelapnya pepohonan, samar-samar ia melihat teman-temannya juga tersenyum ke arahnya.

Wednesday, March 30, 2016

#19: Empat Bulan

Halo! Apa kabar, Nak? Lima hari yang lalu umurmu genap empat bulan. Beratmu makin nambah, Nak. Sekarang tangan Bapak pegel kalau kelamaan gendong kamu. Haha. Kamu juga lebih lincah dalam merespon ajakan ngobrol dan bercanda dari kami.

Ketawamu udah makin renyah. Suaranya udah “hehehe”, mirip sama ketawa orang beneran (memang selama ini mirip apa? Bebek?). Kamu udah ngerti dengan konsep permainan cilukba. Ibuk pernah ngevideoin waktu kita lagi main cilukba. Ketawamu heboh banget.

Beberapa waktu yang lalu, sebelum tidur, kami setelin kamu lagunya Manic Street Preachers yang “Your Love Alone Is Not Enough” pake hape. Bapak gerak-gerakin tanganmu nyesuain irama lagu. Entah kamu seneng sama lagu itu, atau mood-mu lagi bagus malem itu. Kamu keliatan gembira banget, Nak. Ketawa sampe teriak-teriak. Kami seneng liatnya.

Kamu juga selalu seneng kalo kami ajak jalan-jalan, entah pake mobil atau pake stroller. Tapi, beberapa hari yang lalu kamu pernah ngamuk, nangis kenceng banget. Kayaknya kamu lagi ngantuk dan capek banget karena kebanyakan jalan-jalan. Hehe. Selamat empat bulan, Nak!


Friday, March 18, 2016

#18: Sebulan Bersama Bapak (Akhirnya Tinggal Serumah part 2)

Halo nak,

Tidak terasa sudah sebulan lebih kita tinggal 1 rumah bersama Bapak. Kita tinggal di kota bernama Tabalong,sekitar 6 jam dari Banjarmasin. Memang suasananya beda dari Jogja. Di sini kotanya lebih "sederhana", tidak ada gedung-gedung tinggi, bahkan hampir tiap 3 hari sekali mati lampu. Tapi yang terpenting akhirnya kita bisa berkumpul 1 rumah sama Bapak. Horee!!

Waktu pertama datang,adek dianter juga sama Eyang. Seminggu kemudian Eyangnya pulang lagi ke Jogja. Jujur aja dek, habis Eyang pulang ibu sempet takut banget. Biasanya kan selama ini Ibu gantian sama Eyang buat jagain adek, ditambah lagi Ibu biasanya ga perlu masak sama beres beres rumah. Makanya Ibu takut ga bisa.

Setelah ditinggal Eyang, adek jadi sering nangis. Biasanya dari jam 5 sampai nanti jam 7 an. Kalo digendong Bapak, adek juga langsung nangis. Bapak sampe sempet bingung kenapa kok adek ga mau digendong, apa cara gendongnya salah?

Untungnya setelah seminggu, adek udah ga sering nangis lagi. Malahan sering ketawa ketawa. Sekarang juga udah mau digendong Bapak, bahkan sering becanda sama Bapak kalo Bapak udah pulang dari kantor.

Adek paling suka kalo diajak jalan-jalan. Padahal sebenernya cuma disitu-situ aja,tapi adek selalu happy kalo diajak pergi. Adek juga sekarang jadi suka nonton TV. Mungkin karena adek tertarik sama cahayanya, atau mungkin juga karena ketularan Ibu yang suka nonton TV, hehe.

Hidup kita di sini mungkin tidak terlalu menakjubkan. Tapi menurut Ibu hidup kita menyenangkan. Semoga kita tetap jadi keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera ya

Wednesday, March 16, 2016

#17: Tiga Bulan

Halo, Dek! Ini informasi perkembanganmu di usia 3 bulan. Super telat memang, padahal 9 hari lagi usiamu udah 4 bulan. Gapapa deh, dari pada enggak sama sekali.

Kaya kamu liat di bawah, perkembangan paling mencolok darimu adalah di kemampuan verbal, atau ngoceh. Kamu udah bisa ngoceh dengan berbagai variasi suara. Kadang kaya orang kumur-kumur, kadang bergumam, kadang teriak-teriak. Dan yang paling menyenangkan untuk diliat, kamu udah bisa ketawa!

Kata Ibuk, ketawamu udah masuk kategori ketawa sosial. Artinya, ketawamu itu merupakan respon dari stimulus-stimulus yang datang dari orang lain. Seperti diajak ngobrol, diajak ketawa, atau ngeliat sesuatu yang menurutmu lucu. Bukan lagi ketawa yang merupakan bentuk refleks bibir seperti di usiamu sebelumnya.

Ah, cepet banget kau tumbuh.


#16: Akhirnya Tinggal Serumah

Halo! Apa kabar, Nak? Dek? Kirana? Rana? Lintang? Utara? Tara? Ah, banyak juga panggilanmu ya.

Kenapa coba udah lama Bapak ga nulis surat? Bapak ga sempet. Sibuk kerja? Bukan, Bapak sibuk main sama kamu! Yap, betul, Dek, kita akhirnya tinggal serumah. Lebih dari sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 8 Februari, kamu dan Ibuk dateng ke Tanjung nyusul Bapak. Eyang Uti ikut nganter ke sini, dan pulang ke Jogja lima hari kemudian.

Bapak dan Ibuk seneng banget, kita akhirnya ga tinggal jauhan lagi. Kamu juga keliatannya seneng, Dek, soalnya ketawa terus tiap hari. Ga tau sih, mungkin juga memang bayi di usiamu sedang dalam fase ketawa tiap hari. Ah, anggep aja kamu seneng ya hehe.

Kita tinggal di sebuah rumah kontrakan. Ga terlalu besar memang, cuma ada dua kamar (satu kita pake tidur, satu buat naroh barang-barangmu yang seabrek), satu ruang yang dipake buat nerima tamu sekaligus buat tidur-tiduran sambil nonton tivi, satu kamar mandi, dan satu dapur sekaligus tempat nyuci. Tapi kerasa sangat hangat buat kita bertiga.

Bapak akhirnya tau gimana rasanya pulang kerja disambut sama anak istri, Dek. Kalau Bapak pulang kerja, kamu biasanya sedang mimik, atau ngoceh ditemenin Ibuk. Waktu masuk rumah, Bapak pasti nyapa kamu, "Halo, Dek!". Kamu langsung berenti mimik atau ngoceh, terus ketawa sambil liat Bapak. Ini klise emang, Dek, tapi rasa capek Bapak seharian di kantor langsung ilang kalo liat kamu. Haha.

Bapak sedang berusaha ngajarin kamu buat bisa tos sama Bapak. Soalnya Bapak ga suka salaman sambil dicium tangan. Nanti tiap Bapak pergi atau pulang kerja, kita tos aja ya, ga usah cium tangan.

Di akhir pekan, kita bertiga bakal piknik. Paling sering ke pasar, belanja bahan makanan buat seminggu ke depan. Atau muter-muter Tanjung yang cuma segitu-gitu aja. Si Ibuk sampe langsung hapal jalanan di Tanjung cuma dalam waktu seminggu, Dek. Kadang kita juga pergi ke kota sebelah, Amuntai, liat patung bebek yang gede banget di pinggir sungai. Atau nongkrong sambil nyobain tempat-tempat makan yang belum pernah kami datangi.

Yah, Tanjung memang beda dengan Jogja, Dek. Di sini kamu ga bakal nemu mall atau gemerlap kota besar. Di sini juga sering mati lampu, yang bikin kamu keringetan karena sumuk. Pilihan hiburan atau makanan enak buat Bapak dan Ibuk juga sangat terbatas. Tapi, apa itu semua harus bikin kita ngerasa ga betah? Enggak. Banyak juga kok yang harus kita syukuri.

Contohnya, di Tanjung ga pernah macet. Ketemu macet di jalan tu salah satu hal yang paling Bapak ga suka. Lalu, ini yang paling penting, di Tanjung kita berada jauh dari keluarga besar kita, dari Eyang Kakung dan Eyang Uti, dari Abah-Ambu, dari Pakde-Bude, dari sepupu-sepupumu. Itu akan membentuk kita jadi manusia yang mandiri, ga sedikit-sedikit menggantungkan hidup pada orang lain.

Lagipula, kalau kata lagu mah "home is wherever I'm with you". Artinya, rumah adalah di mana Bapak sedang sama kamu, sama Ibuk. Ga peduli di mana pun kita tinggal, kalau kita bertiga bersama-sama, itu adalah rumah kita. Dan saat ini, entah sampai kapan, Tanjung adalah rumah kita, rumahmu, Dek. Nikmatilah selagi kamu bisa.